Kisah Inspiratif: Rosnia Rahman, Mahasiswa FIP UNY Penakluk Beasiswa LPDP

Kisah inspiratif datang dari salah satu mahasiswi berprestasi Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Yogyakarta, Rosnia Rahman. Mahasiswi kelahiran Ambon, 8 Agustus 1999 ini, berhasil membuktikan bahwa keterbatasan finansial bukanlah penghalang utama dalam menempuh pendidikan tinggi ke jenjang magister. Langkah awal perjuangannya dimulai dari sebuah keresahan pribadi mengenai biaya studi lanjut yang tidak sedikit, namun ia memilih untuk melakukan konversi energi negatif tersebut menjadi sebuah motivasi akademik yang kuat. Rosnia meyakini bahwa beasiswa pada dasarnya bukan hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata, melainkan bagi individu yang memiliki persistensi dan kemauan keras untuk berusaha. Keberhasilan ini menjadi representasi nyata dari semangat civitas akademika UNY dalam menjunjung tinggi nilai-nilai edukasi tanpa batas.

Dalam upaya meningkatkan kompetensi bahasanya, Rosnia menunjukkan mobilitas fisik dan mental yang luar biasa dengan melakukan perjalanan mandiri dari Ambon menuju Kampung Inggris, Pare. Perjalanan panjang yang ditempuh dengan menggunakan transportasi laut ini merupakan bentuk investasi waktu dan tenaga demi menguasai kemampuan speaking, vocabulary, hingga pronunciation secara otodidak dan intensif. Meskipun ia berhasil lulus tes TOEFL dengan skor yang memuaskan pada bulan Agustus, perjalanan akademiknya tidak langsung berjalan mulus saat memasuki tahap seleksi substansi pertama. Ia menghadapi realitas pahit ketika esai yang disusunnya dinilai kurang memiliki kedalaman riset dan struktur argumentasi yang kuat sehingga menyebabkan kegagalan di tahap awal. Namun, kegagalan tersebut justru menjadi titik balik bagi Rosnia untuk melakukan evaluasi mandiri secara komprehensif melalui penyusunan target progres harian yang lebih sistematis.

Memasuki gelombang kedua seleksi, Rosnia mengubah strategi belajarnya dengan memanfaatkan fasilitas publik di lingkungan kampus seperti perpustakaan dan Masjid Imam Balki sebagai pusat studinya. Setiap hari, ia menunjukkan disiplin yang tinggi dengan mulai membuka perangkat laptopnya sejak pukul tujuh pagi guna menyusun naskah esai dan melakukan tinjauan literatur yang lebih mendalam. Ketekunan ini juga dibarengi dengan bergabung dalam komunitas belajar kolektif demi memperkaya sudut pandang serta memperkuat basis data riset yang sebelumnya dianggap lemah. Ia bahkan rela menempuh perjalanan kaki sejauh tiga kilometer setiap hari demi menjaga fokus dan konsistensi dalam membaca berbagai referensi akademik yang dibutuhkan. Proses dialektika ini membuktikan bahwa lingkungan kampus UNY sangat mendukung terciptanya ekosistem belajar yang kondusif bagi para pemburu beasiswa.

Hal yang paling unik dari perjuangan Rosnia adalah implementasi filosofi "Jalur Langit" sebagai penyeimbang dari seluruh upaya teknis yang telah ia lakukan secara maksimal. Ia memiliki keyakinan teguh bahwa keberhasilan sebuah ikhtiar akademik dipengaruhi oleh 80 persen aspek spiritual, termasuk kekuatan doa, sedekah, dan amalan-amalan tersembunyi lainnya. Pendekatan holistik ini mencerminkan karakter mahasiswa UNY yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kecerdasan spiritual dan empati sosial yang tinggi. Baginya, kerja keras tanpa sandaran spiritual akan terasa hampa, sehingga ia secara rutin mengombinasikan belajar intensif dengan pendekatan religius di sela-sela kesibukannya. Strategi integratif inilah yang pada akhirnya membawa kabar baik berupa kelulusan sebagai penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada tahun 2024.

Pencapaian Rosnia ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin keempat mengenai Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui peningkatan akses ke jenjang pendidikan tinggi. Selain itu, keberhasilannya juga mendukung poin kelima tentang Kesetaraan Gender (Gender Equality) dan poin kesepuluh mengenai Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities) bagi putra-putri daerah dari Indonesia Timur. Saat ini, Rosnia sedang mendedikasikan seluruh waktunya untuk menyelesaikan tugas akhir tesis sebagai bentuk tanggung jawab akademik kepada negara dan institusi. Melalui kisah ini, diharapkan muncul semangat inklusivitas di lingkungan UNY agar semakin banyak mahasiswa yang berani bermimpi dan menembus batas-batas keterbatasan melalui jalur beasiswa. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara kerja keras, strategi yang tepat, dan doa mampu menciptakan perubahan signifikan bagi masa depan bangsa.



Sumber : https://www.uny.ac.id/id/berita/menembus-jalur-langit-rosnia-taklukkan-lpdp